
Kolaborasi Pengabdian Masyarakat Prodi Arsitektur UIN STS Jambi Kembangkan Inovasi Pemanfaatan Sampah Bersama Masyarakat Tahtul Yaman
Jambi – Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kali ini, kegiatan mengusung tema “Pemanfaatan Sampah Plastik untuk Elemen Dekoratif dan Fungsional Taman di Kota Jambi Seberang serta Inovasi Pengolahan Sampah Domestik Menggunakan Teknologi Rotary Eco Composter”, yang dilaksanakan di RT. 10, Kelurahan Tahtul Yaman, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi.
Kegiatan PkM ini merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin antara Program Studi Arsitektur, Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, dan Teknik Kimia FST Universitas Jambi (UNJA). Sinergi antarlembaga ini menunjukkan bahwa isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, dapat ditangani secara komprehensif melalui pendekatan multidisiplin.
Kegiatan yang berlangsung dengan semarak ini dihadiri oleh Ketua RT. 09 dan RT. 10, Lurah Tahtul Yaman, serta Camat Pelayangan, Bapak Gazali, SE., M.E.. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan dukungan penuh dari pemerintah setempat terhadap inisiatif pengabdian masyarakat ini. Warga juga menyambut baik kegiatan ini karena sejalan dengan program lingkungan yang sedang mereka jalankan, terutama dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Melalui kegiatan ini, tim PkM memperkenalkan dan mempraktikkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam bentuk nyata, seperti pemanfaatan sampah plastik sebagai elemen dekoratif dan fungsional taman, serta penerapan teknologi Rotary Eco Composter untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos yang bermanfaat.
Bagi mahasiswa Program Studi Arsitektur, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi pengalaman penting dalam mengasah kepekaan sosial dan keterampilan desain berkelanjutan. Kegiatan ini juga sejalan dengan mata kuliah di lingkungan Prodi Arsitektur, seperti Studio Perancangan, Komunikasi Arsitektur, dan Estetika Bentuk, yang menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai ekologis dan estetis dalam merancang ruang dan lingkungan.
“Kegiatan ini menjadi wujud nyata keterkaitan antara ilmu arsitektur dengan kebutuhan riil masyarakat. Mahasiswa tidak hanya belajar mendesain secara visual, tetapi juga berpikir tentang keberlanjutan, efisiensi material, dan dampak lingkungan,” ujar salah satu dosen pembimbing dalam kegiatan ini.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan akan semakin banyak inisiatif serupa yang menghubungkan dunia akademik dengan masyarakat, serta mendorong mahasiswa untuk menjadi agen perubahan di bidang arsitektur dan lingkungan.